Pendidikan
Jejak Ilmu di Kampus Tercinta
Di pagi sunyi, mentari menyapa,
Langkah-langkah kecil menuju cita,
Di kampus ini, mimpi dirajut,
Setiap sudut penuh ilmu yang terpaut.
Ruang kelas tempat cerita dimulai,
Diskusi hangat, pemikiran berserai,
Buku-buku bersuara dalam diam,
Membimbing jiwa menuju ke puncak alam.
Dosen mengajar dengan hati terbuka,
Ilmu mengalir bak sungai yang tak henti jua,
Kawan seperjuangan, tawa dan air mata,
Bersama kita tempuh perjalanan yang bermakna.
Di bawah pohon rindang, kami berbincang,
Tentang dunia, masa depan yang menantang,
Mimpi-mimpi digambar dengan pena,
Kampus ini menjadi saksi setiap asa.
Bukan hanya soal angka atau teori,
Tapi juga makna hidup yang abadi,
Kampus mengajar lebih dari kata,
Tentang tanggung jawab dan cita bersama.
Kelak saat waktu memanggil pergi,
Kenangan ini takkan pernah mati,
Kampus tercinta, tempat kami bertumbuh,
Dalam ilmu dan kasih, kami takkan rapuh.
Penulis: Penyapu Kampus
Berita
FNU Sambut Inisiatif PWNU Jawa Tengah Perluas Akses Studi ke China
China, Katakampus.com – Ketua PWNU Jawa Tengah, Abdul Gaffar Rozin, memimpin rombongan dalam kunjungan resmi ke Fujian Normal University (FNU), Fuzhou, China, Selasa, 25 November 2025. Ia hadir bersama sejumlah pengurus PWNU Jawa Tengah, termasuk Bendahara PWNU Ahmad Rofiq Abdullah, Ketua LP Ma’arif NU Fakhruddin Karmani dan wakilnya Hidayatun, serta Rektor IAI Khozinatul Ulum Blora yang juga Wakil Ketua PWNU, Ahmad Zaki Fuad, beserta wakilnya Mil’ul Hana. Turut mendampingi pula Wakil Rektor Institut Pesantren Mathali’ul Falah Pati, Dimyati, dan dua mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di China.
Rombongan PWNU Jawa Tengah itu disambut enam pimpinan FNU, antara lain Vice President Chen, Direktur International Affairs Office Wang, serta pimpinan International College of Chinese Studies dan International Student Office. Pertemuan berlangsung sekitar dua jam dalam suasana hangat dan penuh diskusi terkait peluang kolaborasi pendidikan.
Dalam sesi diskusi, Gus Rozin—sapaan akrab Ketua PWNU Jawa Tengah—menjelaskan kondisi dan potensi pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah. Ia menyebut terdapat 4.119 sekolah dan madrasah NU, termasuk 290 SMK yang setiap tahun meluluskan sekitar 32.000 hingga 33.000 siswa.
“Dengan jumlah lulusan sebanyak itu, kami berkepentingan membuka peluang studi lanjut agar anak-anak kita memperoleh pendidikan yang lebih baik,” ujar Gus Rozin. Ia menambahkan bahwa NU Jawa Tengah juga menaungi 47 perguruan tinggi keagamaan Islam swasta. Karena itu, pihaknya ingin membangun jejaring kerja sama riset, pertukaran guru, pelatihan bahasa, hingga pengembangan teknologi maritim.
Gus Rozin menegaskan bahwa bahasa menjadi salah satu kendala utama dalam memperluas akses pendidikan ke Tiongkok. “Kami perlu peningkatan kompetensi guru bahasa Mandarin untuk mendukung program-program ini,” katanya.
Wakil Presiden FNU, Chen, menyambut baik paparan dan inisiatif PWNU Jawa Tengah. Ia menyatakan FNU siap menindaklanjuti peluang kerja sama tersebut dan menantikan langkah konkret pascapertemuan ini.
Opini
Pesantren sebagai Ruh Pendidikan Moralitas
Dalam tradisi pesantren, proses transmisi ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menyatu dengan pembentukan karakter dan adab. Kajian kitab kuning, ngaji bandongan, sorogan, hingga simaan bukan sekadar rutinitas akademik antara santri dan kiai. Semua metode itu merupakan rangkaian praktik pendidikan yang menempatkan seorang murid dalam suasana keilmuan yang penuh penghormatan kepada guru, kitab, dan tradisi keagamaan. Dalam setiap prosesnya, adab dididik bukan melalui teori, tetapi melalui pengalaman langsung, teladan, dan kebersamaan yang konsisten.
Salah satu tradisi luhur yang melekat pada dunia pesantren adalah musalsal, yaitu rantai transmisi ilmu yang bersambung dari guru kepada murid secara terus-menerus. Melalui musalsal, pengetahuan tidak hanya diwariskan sebagai informasi, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab moral. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kesopanan, ketawadhuan, serta komitmen untuk menjaga kemurnian ilmu.
Tradisi inilah yang menjadikan pesantren berbeda dari lembaga pendidikan lainnya. Hubungan antara guru dan murid bukan semata hubungan secara formal dalam dunia akademik, tetapi hubungan spiritual yang menanamkan adab sebelum ilmu.
Dalam konteks ini, relasi santri-kiai tersambung melalui sanad keilmuan yang terus berkelanjutan, sehingga memastikan keberlangsungan nilai, akhlak, dan tradisi keilmuan dari generasi ke generasi. Oleh karenanya, keunggulan pesantren tidak diukur dari seberapa banyak kitab yang ditamatkan atau seberapa banyak gelar intelektual yang diraih. Akan tetapi,keunggulan itu justru terletak pada kemampuan membentuk manusia berkarakter, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual. Karena ilmu, tanpa adab yang membingkainya, dapat berubah menjadi pedang bermata dua. Ia dapat mencerdaskan, tetapi tanpa akhlak, ia juga dapat merusak dan menyesatkan.
Ungkapan “adab selalu di atas ilmu” merupakan prinsip yang sangat akrab di telinga para santri. Ungkapan ini bukan sekadar slogan moral, tetapi fondasi utama dalam pendidikan pesantren. Pengetahuan yang tidak dipandu oleh kebajikan akan menghasilkan kecerdasan yang kering, sikap yang arogan, dan perilaku yang menimbulkan kerusakan. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan melahirkan kebijaksanaan, ketenangan hati, dan kemampuan memberi manfaat bagi sesama.
Inilah ruh pendidikan pesantren, menanamkan kesadaran mendalam bahwa memahami ilmu agama tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi harus disertai kecerdasan hati. Pesantren membentuk santri bukan sekadar menjadi individu yang mampu menghafal teks atau memahami konsep, melainkan pribadi yang matang secara moral dan spiritual. Dalam lingkungan pesantren, santri dilatih untuk rendah hati, menghargai proses, menghormati guru, serta memelihara batasan-batasan moral dalam setiap aspek kehidupan. Sikap-sikap ini tidak diajarkan melalui teori semata, tetapi melalui keteladanan para kiai dan rutinitas disiplin yang dijalankan setiap hari.
Pesantren meyakini bahwa ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kendali terang, tetapi dapat memusnahkan apa pun di sekitarnya. Seseorang yang cerdas namun tidak beradab berpotensi menyalahgunakan pengetahuannya, menimbulkan kesombongan, bahkan menciptakan kerusakan sosial. Sebaliknya, seseorang yang memiliki adab yang baik meskipun ilmunya belum banyak, justru akan menjadi sumber ketenteraman. Kehadirannya membawa cahaya kebaikan, sebab ia memahami nilai-nilai kebijaksanaan yang tidak kalah penting dari kecerdasan intelektual. Pesantren meyakini bahwa akhlak adalah fondasi yang membuat ilmu bermanfaat, dan tanpa akhlak, segala kelebihan intelektual tidak akan memiliki arti.
Dengan demikian, pendidikan pesantren sesungguhnya membentuk manusia utuh, berilmu, beradab, dan berjiwa penuh kasih.Dengan demikian, tradisi-tradisi pesantren bukan hanya metode pembelajaran klasik, tetapi pilar peradaban yang menjaga warisan akhlak mulia. Ia membentuk generasi yang tidak hanya cakap dalam pengetahuan agama, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Pesantren terus menjadi benteng nilai, penjaga tradisi, dan sumber kebijaksanaan yang sangat dibutuhkan di tengah dunia modern yang semakin cepat namun kerap kehilangan kedalaman.
Penulis: Siswanto, M.A. (Dosen Fakultas Dakwah dan pengembangan masyarakat di Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati)
Berita
Gus Rozin: Hari Santri Harus Jadi Momentum Kemajuan, Bukan Seremonial
Semarang, Katakampus.com – Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, mengingatkan bahwa Hari Santri tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Menurutnya, peringatan 22 Oktober harus menjadi momentum refleksi sejarah dan pendorong kemajuan bagi pesantren, santri, serta umat Islam Indonesia.
Dalam arahannya di Gedung PWNU Jawa Tengah, Jalan dr Cipto Semarang, Gus Rozin—sapaan akrabnya—menegaskan bahwa sejarah bangsa pernah abai terhadap kontribusi besar santri dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan. Ia menyinggung Resolusi Jihad yang digelorakan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 sebagai tonggak penting lahirnya pertempuran 10 November di Surabaya.
“Tanpa Resolusi Jihad, mungkin tak akan ada 10 November yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan,” ujar pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati itu.
Menurutnya, narasi perjuangan santri dan kiai perlahan terhapus dari ingatan publik, bahkan dari buku pelajaran sekolah. Padahal, kata dia, seruan jihad yang disampaikan kepada Presiden Soekarno kala itu lahir dari musyawarah panjang para ulama di berbagai daerah.
“Setelah fatwa jihad keluar, santri dari Buntet, Sumolangu, hingga Parakan bergerak menuju Surabaya. Mereka membawa senjata seadanya, bambu runcing yang didoakan di pesantren-pesantren. Itu bukan kisah romantik, tapi fakta perjuangan,” ujarnya.
Bagi Gus Rozin, Resolusi Jihad menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tapi juga benteng pertahanan kemerdekaan. “Kalau tidak ada Resolusi Jihad, belum tentu kemerdekaan kita bertahan. Maka, peran NU, pesantren, dan santri adalah nadi sejarah bangsa,” katanya.
Ia menolak pandangan bahwa Hari Santri milik satu golongan. Dalam proses lahirnya Resolusi Jihad, KH Mansyur dari Muhammadiyah juga ikut berperan. “Hari Santri adalah milik seluruh umat Islam Indonesia. Semangatnya lintas ormas, lintas golongan,” tegasnya.
Gus Rozin juga mengajak agar peringatan Hari Santri menjadi ruang kolaborasi antarormas Islam dan masyarakat luas. “Yang berjuang di Surabaya bukan hanya santri, tapi rakyat dari berbagai latar. Maka ini momentum persatuan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan agar semangat Hari Santri diwujudkan dalam langkah konkret. “Kita jangan berhenti pada upacara. Hari Santri harus punya ukuran kemajuan. Misalnya, tahun ini asramanya satu, tahun depan dua. Santri yang TOEFL-nya 400, tahun depan 500. Ada capaian nyata yang kita rayakan,” katanya.
Tahun ini, peringatan Hari Santri memasuki dekade ke-10. Gus Rozin menilai momen ini tepat untuk menengok ke belakang sekaligus menyiapkan masa depan. “Kita mensyukuri perjuangan para kiai, tapi juga harus sadar pada tugas yang belum selesai,” ujarnya.
Ia menutup pesannya dengan ajakan agar seluruh pesantren dan madrasah menanamkan kesadaran sejarah dan semangat kemajuan. “Selain 17 Agustus, kita punya momentum besar lain: 22 Oktober. Rayakan dengan semangat kebersamaan, karena ini milik kita semua, milik bangsa Indonesia,” pungkasnya.
-
Berita10 bulan yang laluPendampingan Strategis Pendaftaran Tanah di Desa Blimbing: Upaya Masyarakat Menuju Kepastian Hukum Pertanahan
-
Berita10 bulan yang laluMahasiswa KKN UPGRIS 29 Gencarkan Urban Farming di Mijen: Tanam Cabai untuk Ketahanan Pangan
-
Berita10 bulan yang laluMahasiswa KKN UPGRIS 29 Perindah Lingkungan dengan Penataan Tanaman TOGA
-
Berita10 bulan yang laluEkstrakurikuler Muhadhoroh SMP IT Al-Anis Sukoharjo Perkuat Kompetensi Siswa
-
Berita4 bulan yang laluMAHESA UPGRIS 2025 Mengajak Masyarakat Sidoharjo Olah Kacang Hijau Menjadi LUK CHUP
-
Berita10 bulan yang laluMahasiswa KKN UPGRIS Kenalkan Asinan Rambutan sebagai Inovasi Kuliner di Kelurahan Bubakan
-
Berita3 bulan yang laluMelek Teknologi Sejak Dini: KKN UMBY Dampingi Anak Singosaren Belajar Bijak Bermain Gadget
-
Berita10 bulan yang laluKKN Upgris Kelompok 20 Gelar Pelatihan Coding untuk Kembangkan Critical Thinking Siswa SD di Semarang
