Opini
Pesantren sebagai Ruh Pendidikan Moralitas
Dalam tradisi pesantren, proses transmisi ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menyatu dengan pembentukan karakter dan adab. Kajian kitab kuning, ngaji bandongan, sorogan, hingga simaan bukan sekadar rutinitas akademik antara santri dan kiai. Semua metode itu merupakan rangkaian praktik pendidikan yang menempatkan seorang murid dalam suasana keilmuan yang penuh penghormatan kepada guru, kitab, dan tradisi keagamaan. Dalam setiap prosesnya, adab dididik bukan melalui teori, tetapi melalui pengalaman langsung, teladan, dan kebersamaan yang konsisten.
Salah satu tradisi luhur yang melekat pada dunia pesantren adalah musalsal, yaitu rantai transmisi ilmu yang bersambung dari guru kepada murid secara terus-menerus. Melalui musalsal, pengetahuan tidak hanya diwariskan sebagai informasi, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab moral. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kesopanan, ketawadhuan, serta komitmen untuk menjaga kemurnian ilmu.
Tradisi inilah yang menjadikan pesantren berbeda dari lembaga pendidikan lainnya. Hubungan antara guru dan murid bukan semata hubungan secara formal dalam dunia akademik, tetapi hubungan spiritual yang menanamkan adab sebelum ilmu.
Dalam konteks ini, relasi santri-kiai tersambung melalui sanad keilmuan yang terus berkelanjutan, sehingga memastikan keberlangsungan nilai, akhlak, dan tradisi keilmuan dari generasi ke generasi. Oleh karenanya, keunggulan pesantren tidak diukur dari seberapa banyak kitab yang ditamatkan atau seberapa banyak gelar intelektual yang diraih. Akan tetapi,keunggulan itu justru terletak pada kemampuan membentuk manusia berkarakter, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual. Karena ilmu, tanpa adab yang membingkainya, dapat berubah menjadi pedang bermata dua. Ia dapat mencerdaskan, tetapi tanpa akhlak, ia juga dapat merusak dan menyesatkan.
Ungkapan “adab selalu di atas ilmu” merupakan prinsip yang sangat akrab di telinga para santri. Ungkapan ini bukan sekadar slogan moral, tetapi fondasi utama dalam pendidikan pesantren. Pengetahuan yang tidak dipandu oleh kebajikan akan menghasilkan kecerdasan yang kering, sikap yang arogan, dan perilaku yang menimbulkan kerusakan. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan melahirkan kebijaksanaan, ketenangan hati, dan kemampuan memberi manfaat bagi sesama.
Inilah ruh pendidikan pesantren, menanamkan kesadaran mendalam bahwa memahami ilmu agama tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi harus disertai kecerdasan hati. Pesantren membentuk santri bukan sekadar menjadi individu yang mampu menghafal teks atau memahami konsep, melainkan pribadi yang matang secara moral dan spiritual. Dalam lingkungan pesantren, santri dilatih untuk rendah hati, menghargai proses, menghormati guru, serta memelihara batasan-batasan moral dalam setiap aspek kehidupan. Sikap-sikap ini tidak diajarkan melalui teori semata, tetapi melalui keteladanan para kiai dan rutinitas disiplin yang dijalankan setiap hari.
Pesantren meyakini bahwa ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kendali terang, tetapi dapat memusnahkan apa pun di sekitarnya. Seseorang yang cerdas namun tidak beradab berpotensi menyalahgunakan pengetahuannya, menimbulkan kesombongan, bahkan menciptakan kerusakan sosial. Sebaliknya, seseorang yang memiliki adab yang baik meskipun ilmunya belum banyak, justru akan menjadi sumber ketenteraman. Kehadirannya membawa cahaya kebaikan, sebab ia memahami nilai-nilai kebijaksanaan yang tidak kalah penting dari kecerdasan intelektual. Pesantren meyakini bahwa akhlak adalah fondasi yang membuat ilmu bermanfaat, dan tanpa akhlak, segala kelebihan intelektual tidak akan memiliki arti.
Dengan demikian, pendidikan pesantren sesungguhnya membentuk manusia utuh, berilmu, beradab, dan berjiwa penuh kasih.Dengan demikian, tradisi-tradisi pesantren bukan hanya metode pembelajaran klasik, tetapi pilar peradaban yang menjaga warisan akhlak mulia. Ia membentuk generasi yang tidak hanya cakap dalam pengetahuan agama, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Pesantren terus menjadi benteng nilai, penjaga tradisi, dan sumber kebijaksanaan yang sangat dibutuhkan di tengah dunia modern yang semakin cepat namun kerap kehilangan kedalaman.
Penulis: Siswanto, M.A. (Dosen Fakultas Dakwah dan pengembangan masyarakat di Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati)
Info
Rekomendasi Makan Saat Musim Hujan: Menghangatkan Tubuh, Menguatkan Daya Tahan
Musim hujan bukan sekadar soal cuaca yang basah dan dingin. Ia membawa perubahan pada ritme tubuh, selera makan, hingga daya tahan kesehatan. Tidak mengherankan jika saat hujan turun, keinginan untuk menikmati makanan hangat dan berkuah meningkat. Namun, pilihan makanan di musim hujan seharusnya tidak hanya mengikuti selera, melainkan juga mempertimbangkan manfaat bagi tubuh.
Perubahan suhu dan kelembapan membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan. Dalam kondisi ini, makanan berperan sebagai sumber energi sekaligus pelindung sistem imun. Sayangnya, banyak orang justru memilih makanan instan atau gorengan berlebihan karena praktis dan terasa “menghangatkan”. Padahal, pilihan tersebut belum tentu baik bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Makanan berkuah hangat menjadi pilihan paling masuk akal saat hujan. Sup sayur, soto, atau sayur bening bukan hanya memberi rasa nyaman, tetapi juga membantu menjaga hidrasi tubuh. Kuah hangat membantu melancarkan pencernaan dan membuat tubuh lebih rileks. Jika dilengkapi dengan sayuran segar dan sumber protein, makanan berkuah dapat menjadi menu lengkap yang menyehatkan.
Selain itu, bahan makanan yang mengandung rempah-rempah layak mendapat tempat istimewa di musim hujan. Jahe, kunyit, lengkuas, dan serai telah lama dikenal mampu memberikan efek hangat sekaligus membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Tak heran jika minuman jahe atau wedang rempah selalu dicari saat cuaca dingin. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk adaptasi kearifan lokal terhadap alam.
Protein juga menjadi unsur penting dalam menu makan saat hujan. Ikan, telur, tempe, dan tahu dapat membantu memperbaiki sel tubuh dan memperkuat sistem imun. Mengombinasikan protein dengan sayuran hijau dan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau umbi-umbian akan membuat tubuh lebih tahan terhadap penyakit musiman.
Buah-buahan sering kali diabaikan saat hujan karena dianggap “dingin”. Padahal, buah yang kaya vitamin C seperti pepaya, jeruk, dan jambu biji justru sangat dibutuhkan untuk menjaga daya tahan tubuh. Konsumsi buah tidak harus selalu dalam keadaan dingin; bisa disajikan dalam bentuk potongan segar suhu ruang atau diolah menjadi minuman hangat.
Di tengah cuaca hujan, kebiasaan makan juga perlu dijaga. Makan teratur, tidak berlebihan, dan memperhatikan kebersihan makanan menjadi kunci agar tubuh tidak mudah terserang penyakit. Musim hujan rawan terhadap gangguan pencernaan akibat makanan yang kurang higienis.
Pada akhirnya, rekomendasi makan saat musim hujan bukan soal mengikuti tren kuliner, melainkan tentang kesadaran merawat tubuh. Makanan adalah bentuk ikhtiar paling dasar untuk menjaga kesehatan. Dengan memilih makanan yang tepat, musim hujan tidak lagi menjadi momok, melainkan kesempatan untuk lebih peduli pada tubuh dan keseimbangan hidup.
Berita
Mahasiswa KKN Tematik UPGRIS Gelar Edukasi dan Pelatihan Sport Massage di Ungaran Barat
Kab. Semarang, Katakampus.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melaksanakan program Edukasi dan Pelatihan Sport Massage di RT 7 RW 3 Dliwang, Kelurahan Ungaran, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, pada Selasa, 8 Oktober 2025. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar sport massage kepada masyarakat untuk menjaga kebugaran tubuh serta mencegah cedera saat berolahraga.
Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa memberikan penyuluhan mengenai manfaat dan teknik dasar sport massage sekaligus mengajak warga untuk mempraktikkan langsung teknik yang telah diajarkan. Program tersebut dipandu oleh mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) UPGRIS yang berfokus pada pengenalan pijat olahraga secara aman dan sederhana bagi masyarakat umum.
Penanggung jawab program kerja KKN, Janu Setyawan, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sesuai bidang keilmuan mereka. “Kami berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan masyarakat tentang pentingnya pemulihan tubuh setelah berolahraga dan menjadi keterampilan yang bermanfaat bagi warga,” ujarnya.

Mahasiswa KKN UPGRIS melatih warga Ungaran Barat teknik dasar sport massage untuk menjaga kebugaran tubuh.
Sementara itu, Ketua RT 7 RW 3 Dliwang menyambut baik kegiatan yang digagas mahasiswa KKN UPGRIS tersebut. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan manfaat langsung bagi warga, terutama para pemuda yang aktif dalam kegiatan olahraga. “Program ini sangat bermanfaat. Edukasi seperti ini jarang ada dan kami berterima kasih atas inisiatif mahasiswa,” katanya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UPGRIS berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebugaran tubuh serta menerapkan gaya hidup sehat berbasis ilmu keolahragaan. Acara diakhiri dengan sesi praktik bersama warga dan foto dokumentasi sebagai penutup kegiatan KKN Tematik UPGRIS di Kelurahan Ungaran Barat.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) merupakan program pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan kegiatan akademik dengan kebutuhan masyarakat di berbagai bidang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah untuk memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat di berbagai wilayah.
Berita
Inovasi Mahasiswa KKN UPGRIS: Tingkatkan Ekonomi Warga dengan Bawang Goreng dan Daur Ulang Sampah Sachet
Semarang, Katakampus.com – Dalam rangka Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) oleh Universitas PGRI Semarang, mahasiswa melaksanakan kegiatan inovatif yang bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat dan mengurangi limbah, yaitu pembuatan bawang goreng serta pemanfaatan sampah sachetan menjadi tempat tisu. Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif ibu-ibu di RW 02 Gajahmungkur dan diselenggarakan pada 21 Januari–21 Maret 2025.
Kegiatan pembuatan bawang goreng diawali dengan sosialisasi mengenai proses dan manfaatnya. Mahasiswa memberikan pelatihan tentang cara membuat bawang goreng berkualitas, mulai dari pemilihan bahan hingga teknik menggoreng yang benar.
Ibu-ibu terlihat antusias mengikuti pelatihan ini. Mereka belajar cara memotong bawang dengan baik, mengatur suhu minyak agar bawang tidak gosong, serta menyimpan bawang goreng dalam wadah yang tepat untuk menjaga kerenyahannya. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat dijual di pasar lokal, sehingga memberikan pendapatan tambahan bagi keluarga.
Selain pembuatan bawang goreng, mahasiswa juga mengajarkan ibu-ibu cara memanfaatkan sampah sachetan, seperti sachet detergen atau minuman, untuk dijadikan tempat tisu. Dalam kegiatan ini, ibu-ibu diajarkan cara membersihkan, melipat, dan menganyam sampah yang sudah dilipat menjadi tempat tisu yang menarik dan fungsional.

Proses ini melibatkan pemotongan sachetan, melipat, dan menganyam. Hasil akhirnya adalah tempat tisu yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga dapat dijual sebagai produk kerajinan tangan yang unik.
Kegiatan pembuatan bawang goreng dan pemanfaatan sampah sachetan menjadi tempat tisu di RW 02 Gajahmungkur menunjukkan bagaimana kreativitas dapat mengubah limbah menjadi produk berharga. Selain itu, kegiatan ini meningkatkan keterampilan dan pendapatan masyarakat.
Diharapkan, inovasi ini dapat berkelanjutan dan menginspirasi desa lain untuk mengolah sampah menjadi produk yang bermanfaat, sekaligus meningkatkan ekonomi lokal.
-
Berita11 bulan yang laluPendampingan Strategis Pendaftaran Tanah di Desa Blimbing: Upaya Masyarakat Menuju Kepastian Hukum Pertanahan
-
Berita11 bulan yang laluMahasiswa KKN UPGRIS 29 Gencarkan Urban Farming di Mijen: Tanam Cabai untuk Ketahanan Pangan
-
Berita5 bulan yang laluMAHESA UPGRIS 2025 Mengajak Masyarakat Sidoharjo Olah Kacang Hijau Menjadi LUK CHUP
-
Berita11 bulan yang laluMahasiswa KKN UPGRIS 29 Perindah Lingkungan dengan Penataan Tanaman TOGA
-
Berita11 bulan yang laluEkstrakurikuler Muhadhoroh SMP IT Al-Anis Sukoharjo Perkuat Kompetensi Siswa
-
Berita6 bulan yang laluPraktik Baik TeFa dan Kemitraan: SMK Ma’arif Kudus Jadi Model Pembelajaran Berbasis Industri
-
Berita11 bulan yang laluMahasiswa KKN UPGRIS Kenalkan Asinan Rambutan sebagai Inovasi Kuliner di Kelurahan Bubakan
-
Berita5 bulan yang laluMelek Teknologi Sejak Dini: KKN UMBY Dampingi Anak Singosaren Belajar Bijak Bermain Gadget
