Connect with us

Berita

Workshop Penguatan Aswaja untuk Guru LP Ma’arif NU Jepara: Membangun Kompetensi dan Karakter Ke-NU-an

Published

on

Jepara, Katakampus.com – Dalam rangka meningkatkan kapasitas guru Ke-NU-an, LP Ma’arif NU PCNU Jepara menggelar Workshop Penguatan Aswaja bagi guru MI, MTs, MA, dan SMP se-Kecamatan Donorojo dan Kecamatan Keling. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 25 Februari 2025, di Gedung MWC NU Donorojo dan diikuti oleh 70 guru Ke-NU-an di lingkungan LP Ma’arif NU Jepara.

Ketua LP Ma’arif NU PCNU Jepara, Mualimin, menyampaikan bahwa workshop ini direncanakan berlangsung di empat zona di Kabupaten Jepara, dengan PMWC Donorojo dan PMWC Keling sebagai zona pertama. Pembagian zona ini bertujuan agar pelaksanaan workshop lebih efektif dan tidak memberatkan peserta dalam hal jarak tempuh.

Selain meningkatkan kompetensi guru Ke-NU-an, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan pemberdayaan guru agar potensinya dapat diasah dan dikembangkan. “Kami berharap peserta benar-benar mengikuti workshop dengan baik serta menyampaikan ide dan gagasan di forum ini agar pembelajaran Ke-NU-an ke depan lebih produktif, efektif, dan menggembirakan,” ujar Mualimin kepada media, Kamis (27/2/2025).

Workshop ini menghadirkan narasumber dari PCNU dan Unisnu Jepara, yakni Prof. Dr. Mustaqim, Prof. Dr. Zubaidi Masyhud, dan Dr. Abdul Wahab Salim. Materi yang disampaikan meliputi Strategi Pembelajaran Aktif dalam Pendidikan Nilai-Nilai Ke-NU-an, Dasar-Dasar Aswaja An-Nahdliyyah, serta Integrasi Nilai Ke-NU-an dalam Kurikulum dan Kearifan Lokal.

Sebagai tindak lanjut, LP Ma’arif NU Jepara merencanakan implementasi hasil workshop melalui program di PMWC masing-masing. Dengan demikian, diharapkan workshop ini dapat memberikan dampak nyata dalam penguatan pendidikan Ke-NU-an di Kabupaten Jepara.(*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Satupena Temanggung Gelar Lokakarya Mini, Ajak Siswa Ubah Curhat Jadi Karya Produktif

Published

on

By

Katakampus.com, Temanggung – Organisasi penulis Satupena Kabupaten Temanggung terus memperluas gerakan literasi di kalangan pelajar. Kamis (15/1/2026), Satupena menggelar Mini Workshop literasi kedua di MTs Ma’arif Nurul Huda, Desa Keblukan, Kecamatan Kaloran.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB tersebut menghadirkan penulis dan pendidik Ahmad Nawawi, yang dikenal dengan nama pena Awi Ahna. Ia merupakan guru di MA Muallimin Parakan sekaligus penulis produktif dengan sejumlah karya yang telah beredar luas, di antaranya Langit Tak Selalu Cerah, Formula Rahasia Meracik Artikel SEO, Titik Nol, serta antologi puisi Progo 9.

Dalam sesi bertema “Curhat Jadi Karya: Seni Menghasilkan Cuan dan Kebahagiaan dari Tulisan”, Awi Ahna menekankan bahwa aktivitas menulis tidak hanya berfungsi sebagai sarana ekspresi, tetapi juga memiliki nilai terapeutik.

Menurut dia, menulis dapat menjadi media untuk meredakan tekanan psikologis, memperkuat ketahanan diri, sekaligus membantu penulis mengenali potensi personalnya. “Menulis bukan semata soal uang. Ia juga bisa menjadi cara menyembuhkan diri, mengurangi stres, dan memahami diri sendiri,” ujarnya di hadapan para siswa.

Awi mendorong peserta untuk memanfaatkan dinamika emosi remaja sebagai bahan tulisan. Kegalauan, kegembiraan, maupun kegelisahan, kata dia, dapat diolah menjadi karya yang bernilai dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Selain membahas aspek kreatif, Awi juga memperkenalkan sejumlah platform digital yang dapat menjadi ruang publikasi sekaligus peluang ekonomi bagi penulis pemula. Untuk artikel, ia menyebut media seperti Mojok dan IDN Times, sementara bagi penulis fiksi tersedia platform seperti Storial.co dan KBM App.

Workshop ini dimoderatori oleh Ulul Azmi, Bendahara Satupena Temanggung. Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Kepala MTs Ma’arif Nurul Huda, Wiwik Hartati, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan literasi tersebut.

Wiwik mengatakan, kegiatan Satupena bertepatan dengan peluncuran ekstrakurikuler literasi di madrasah yang ia pimpin. “Kami ingin peserta didik tidak hanya dibiasakan membaca, tetapi juga mampu menuangkan gagasan dan pengalaman mereka dalam bentuk karya tulis,” katanya. Wiwik juga diketahui menjabat sebagai Ketua Satupena Kabupaten Temanggung.

Selama kegiatan berlangsung, antusiasme siswa terlihat tinggi. Sejumlah peserta menyatakan tertarik untuk mulai menulis secara rutin dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai peluang pengembangan diri, bahkan sumber penghasilan tambahan sejak dini.

Menjelang penutupan, acara diakhiri dengan sesi kuis interaktif berhadiah buku karya Rizqie Al Hidayah, Sekretaris Satupena Temanggung. Dalam kesempatan tersebut, Rizqie menyampaikan pesan motivatif kepada para siswa.

“Apa yang kalian kerjakan hari ini akan berpengaruh pada masa depan kalian. Menulis bisa dimulai sekarang,” ujarnya menutup rangkaian kegiatan.

Continue Reading

Berita

KKN UPGRIS di Desa Kalongan Resmi Diterjunkan, Mahasiswa Siap Mengabdi untuk Masyarakat

Published

on

By

Katakampus.com, Kab. Semarang – Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) pada hari Rabu, 14 Januari 2026 secara resmi melakukan penerjunan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Kabupaten Semarang. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang menjadi pilar dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Terdapat 10 desa di Ungaran Timur dan 11 desa di Ungaran Barat yang terbagi dalam beberapa kelompok. Sebanyak 17 mahasiswa dari berbagai program studi diterjunkan di Desa Kalongan, Ungaran Timur akan melaksanakan pengabdian selama kurang lebih 50 hari, mulai dari 13 Januari hingga 3 Maret 2026.

Acara penerjunan bertempat di Pendopo Kantor Bupati Semarang. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Kabupaten Semarang Dra. Hj. Nur Arifah, Ketua Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPMM) UPGRIS Prof. Dr. Wiyaka, M.Pd., serta sejumlah Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kabupaten Semarang menyampaikan pesan dari Bupati Semarang bahwa KKN merupakan agenda penting dalam implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat. KKN menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh di bangku perkuliahan ke dalam kehidupan di tengah masyarakat.

“Melalui KKN, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu berkolaborasi, beradaptasi, dan memberikan solusi atas permasalahan yang ada di desa maupun kota tempat mereka bertugas. Pemerintah Kabupaten Semarang juga sangat mendukung penuh pelaksanaan KKN UPGRIS di wilayah kami,” ujar Dra. Hj. Nur Arifah.

Sementara itu, Kepala Desa Kalongan yang diwakilkan oleh Staf Administrasi dan PJ Direktur BUMDES Desa, Ibu Diah Puspitosari., S. Pt., menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN. Ia menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk mendukung seluruh rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan.

“Kami sangat terbuka dan mendukung penuh kehadiran adik-adik mahasiwa. Kami berharap kegiatan ini bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Kalongan, Khususnya dalam bidang pendidikan, lingkungan, dan ekonomi desa,” tutur Diah Puspitosari.

Penyerahan mahasiswa oleh DPL di kantor kelurahan Desa Kalongan (Sumber Foto: Dika)

Program Kerja Utama Mahasiswa KKN di Desa Kalongan

Sejumlah program kerja unggulan telah dirancang oleh mahasiswa selama masa KKN berlangsung. Divisi Pendidikan dan Literasi Digital mengusung program sosialisasi anti bullying, anti hoaks, parenting di KB, serta mengadakan bimbingan belajar bagi anak-anak di sekitar posko. Divisi kesehatan dan lingkungan akan melangsungkan osialisasi Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan penggunaan spray anti naymuk, Juru Pemantau Jentik (Jumantik) serta plangisasi edukasi penguraian sampah. Divisi Kewirausahaan dan pariwisata menginisiasi pelatihan pemasaran digital UMKM jamur tiram “Teratai”, pojok UMKM digital Desa Kalongan, dan visualisasi potensi Desa Kalongan berbasis e-majalah. Divisi Mitigasi Bencana melakukan follow-up alat pendeteksi bencana serta sosialisasi penanganan bencana.

Kegiatan penerjunan ini diakhiri dengan penyerahan secara simbolis mahasiswa KKN dari pihak kampus kepada Kepala Desa Kalongan. Setelah itu, mahasiswa mulai menempati rumah (posko)  sebagai tempat tinggal selama masa pengabdian. Dengan kegiatan KKN ini, Universitas PGRI Semarang berharap bisa mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peduli dan mampu berkontribusi dalam pembangunan masyarakat desa.

Continue Reading

Berita

Di Tengah Tuntutan Global, LP Ma’arif NU Jateng Merapikan Arah Pendidikan

Published

on

By

Katakampus.com, Semarang – Perubahan lanskap pendidikan—mulai dari tuntutan sekolah inklusif hingga kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris—mendorong Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah merapikan kembali arah kebijakannya. Selama dua hari, Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026, Ma’arif Jateng menggelar forum terpadu yang menggabungkan Pelatihan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Berbasis Cinta (PM KBC) An-Nahdliyyah, pendampingan Bahasa Inggris berstandar internasional Pearson, serta finalisasi modul pendidikan inklusi di Hotel Muria, Semarang.

Forum ini menjadi ruang konsolidasi antara nilai ideologis dan tuntutan teknis pendidikan. Wakil Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Dr. Hidayatun, M.Pd., menyebutkan bahwa Ma’arif tidak bisa lagi berjalan dengan pendekatan parsial dalam menghadapi perubahan sistem pendidikan.

“Inklusi hari ini bukan wacana, tetapi keharusan. Karena itu modulnya harus selesai dan diterapkan secara seragam. Pada saat yang sama, kemampuan Bahasa Inggris guru juga perlu dinaikkan agar lulusan Ma’arif tidak terpinggirkan,” ujar Hidayatun.

Menurut dia, penguatan Bahasa Inggris menjadi kebutuhan struktural seiring meningkatnya penggunaan Bahasa Inggris di pendidikan menengah dan berbagai skema beasiswa. Melalui pendampingan Pearson, Ma’arif menargetkan peningkatan kompetensi guru secara terukur.

Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah, Dr. Ghufron Hamzah, S.Th.I., M.S.I., menempatkan kurikulum berbasis cinta sebagai pembeda utama pendidikan Ma’arif. Ia menegaskan bahwa orientasi global tidak boleh mencabut akar nilai yang menjadi identitas Nahdlatul Ulama.

“KH Hasyim Asy’ari sudah meletakkan dasar pendidikan berbasis cinta dalam Qanun Asasi. Itu yang menjaga pendidikan kita tetap manusiawi di tengah arus globalisasi,” kata Ghufron.

Ia menyebutkan bahwa kewajiban penguatan Bahasa Inggris di sekolah-sekolah Ma’arif sejatinya telah dipersiapkan sejak lama. Berbagai program peningkatan kapasitas guru, termasuk pelatihan di Pare, menjadi bagian dari strategi tersebut.

Ghufron menilai pendekatan berbasis cinta mampu menggeser pola pikir lama yang kerap memandang perubahan sebagai ancaman. “Cinta itu mengubah resistensi menjadi kesediaan untuk belajar,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti oleh 44 guru dan pengelola satuan pendidikan Ma’arif dari berbagai daerah di Jawa Tengah. LP Ma’arif NU Jateng berharap forum tersebut menjadi titik tolak penerapan pendidikan yang inklusif, berdaya saing, sekaligus berakar pada nilai ke-NU-an.

Continue Reading

Trending